SIFAF 2017, Bukan Hanya Sekadar Traditional Dance Perfomance

Semarang International Folk Arts Festival (SIFAF) 2017 untuk pertama kali hadir di Semarang. Acara ini menampilkan tari tradisional dari berbagai negara. Untuk tahun pertama ini, SIFAF mengundang empat negara, yaitu Sri Lanka, Thailand, Taiwan dan Korea Selatan.

Sebelumnya, acara serupa pernah ada di Kutai dan kota-kota lain dengan nama yang berbeda. Komunitas Bawika, penyelenggara acara ini, bekerja sama dengan pemerintah kota Semarang dan komunitas-komunitas seni yang sudah pernah menyelenggarakan acara serupa.

Acara ini merupakan serangkaian acara untuk memperingati HUT Kota Semarang yang ke 470. Acara utamanya dimulai pada Rabu, 3 Mei 2017, dengan opening ceremony performance yang menampilkan tari tradisional dari Indonesia dan juga keempat negara yang diundang. Setelah acara pembukaan, esok harinya dilanjutkan dengan city tour, di mana para undangan dari keempat negara berkeliling kota Semarang, dimulai dari berkunjung ke Taman Sri Gunting, Gereja Blenduk, Semarang Art Gallery, Sam Poo Kong, Maerokoco, hingga expo kuliner dan kerajinan di DP Mall yang diadakan oleh pemkot Semarang dalam memperingati HUT Kota Semarang. Mereka menikmati kuliner-kuliner yang ada seperti nasi bakar, lunpia dan sebagainya, dan juga belajar membatik. City tour pada tanggal 4 ini ditutup dengan makan bersama di Kampung Laut.

Kemudian pada hari ketiga, diadakan workshop International Folk Dance, dimana mereka dibagi dalam kelompok kecil untuk belajar tarian dari Indonesia, Sri Lanka, Thailand, Taiwan dan juga Korea Selatan.  Dan terakhir, mereka mengikuti  parade dan outdoor performance di Semarang Night Carnival pada tanggal 6 Mei lalu.

Para undangan ini sangat antusias mengikuti serangkaian acara yang disusun oleh SIFAF. Tidak hanya sekadar berkunjung untuk menampilkan tarian tradisional dari negara masing-masing, tetapi mereka juga tertarik untuk mengenal budaya Indonesia lebih dalam.

Seperti yang diungkapkan oleh Reza, Ketua Komunitas Bawika, para undangan ini sempat memberikan komentar yang beragam. Seperti saat mereka diajak ke mall atau makan di restoran yang mewah, mereka tampak biasa-biasa saja bahkan merasa kurang tertarik. Mereka jauh lebih senang ketika diajak ke tempat-tempat tradisional dan menikmati makanan asli Semarang.

Ada beberapa agenda yang berjalan tidak sesuai dengan rencana. Salah satunya adalah agenda untuk jalan-jalan ke mall. Para undangan meminta kepada panitia untuk dibawa ke Pasar Johar. Reza mengungkapkan, tidak ada panitia yang memberitahu tempat tersebut, tetapi para undangan berinisiatif untuk mencaritahu sendiri dan meminta panitia untuk membawa mereka ke sana.

Dan yang tidak disangka-sangka adalah, para undangan ini sangat antusias berbelanja di Pasar Johar. Mereka merasa pasar tradisional ini jauh lebih baik daripada berbelanja di mall. Mereka bahkan membeli barang-barang, seperti sandal bermotif batik, kain, dan sebagainya.

Hal ini menunjukkan betapa sebenarnya para undangan dari luar negeri ini sangat menghargai budaya asli Semarang. Mereka lebih antusias diajak ke tempat-tempat yang mempunyai nilai sejarah daripada ke tempat-tempat yang sudah disentuh oleh budaya modern.

Pengalaman ini tentunya bisa mengajarkan kita, para generasi muda, untuk lebih menghargai budaya kita sendiri. Karena, orang luar saja sangat menghargai budaya kita, masa kita nggak? Hehe.

You might also like More from author

Comments

Loading...