Review Film 3 Genre, The Commuter

Berbahagialah buat #AnakEvents yang udah mulai haus buat cari asupan film baru.  Soalnya bakal ada satu film baru yang keren dan wajib masuk daftar target film baru kamu, salah satu film The Commuter.

Digarap Jaume Collet Serra, sutradara yang terkenal sama karya thriller-horror kayak The Orphan (2009) kembali menyajikan tayangan film dengan tensi cerita yang gak kalah menegangkan. Pernah kerja bareng Liam Neeson di film Non-Stop (2014), Unknown (2011), Run All Night (2015), ternyata The Commuter kembali menyatukan keduanya lewat film ini.

Kalau kamu perhatiin lebih detail, film-film kolaborasi mereka punya formula yang hampir sama. Yap, Liam Neeson kerap jadi pahlawan yang harus menghadapi risiko besar dan harus dihadapkan pilihan untuk mengungkap kebenaran dan melindungi orang-orang yang enggak bersalah.

Sebagai salah satu nominasi People’s Choice Award kategori Film Thriller Terbaik (harusnya) bikin kamu yakin mau nonton karya barunya ini. Film yang berdurasi 105 menit ini dikemas secara seru dengan memadukan genre psychological, thriller dan horor. Gak hanya seputar kekuatan dan kecerdasan, film ini juga menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan dunia psikologis. Udah mulai penasaran? Langsung aja baca review film The Commuter berikut ini

Tiga Genre Jadi Satu, Hasilnya Istimewa

Dimulai dengan penampakan sekilas kegiatan sehari-hari sang aktor utama Michael Mc. Cauley (Liam Neeson) dengan sang istri Mrs. Karen (Elizabeth Mc. Govern) dan anak laki-laki mereka Danny (Dean Charles Chapman) dari satu pagi ke pagi yang lain pada hari yang berbeda secara berlanjut.

Aktivitas bekerja di sebuah perusahaan asuransi bikin Michael harus menggunakan kereta untuk mencapai kantornya. Bekerja selama sepuluh tahun di perusahaan yang sama memberinya peluang untuk mengenal beberapa teman yang juga merupakan pengguna harian kereta tersebut.

Sampai pada suatu hari sebuah bencana mendatangi Michael yang harus menjadi korban PHK dari perusahaannya. Merasa terpuruk dan kesal, doi kemudian curhat dengan temannya lamanya saat masih bekerja di kepolisian.

Pulang menuju rumah, kereta pun dinaiki lagi. Laju kereta yang sama dengan orang-orang pengguna yang dikenalnya tidak dapat mengubah bahwa di kereta itulah klimaks akan dimulai.

Dia pun tiba tiba ditugaskan oleh seorang cewek yang enggak dia kenal untuk menemukan saksi pembunuhan di dalam kereta tersebut. Sebagai imbalan, dia diberikan uang apabila berhasil menemukannya sebelum kereta itu berhenti di tujuan akhir.

Karena keluarganya sedang butuh uang, dia penasaran dengan tantangan tersebut. Namun, ketika seorang penumpang tewas, Michael sadar bahwa tantangan ini berbahaya. Dia pun berusaha untuk kabur dan menghubungi polisi. Namun, hebatnya, seorang psikolog misterius Joanna (Vera Farmiga) seakan memiliki “mata” di dalam kereta dan menyandera keluarga Michael. Dan nyawa orang-orang terdekat Michael pun tergantung pada keputusannya.

Sinematografinya Gak Mengecewakan

Gak cuma dari jalan cerita buatan Byron Willinger dkk aja yang bisa buat kamu dibikin puas, tapi penghayatan dan pendalaman masing-masing karakter dari pemeran utama sampai pemeran pembantu jadi bumbu sedap sepanjang film.

Kemenangan Liam Neeson dalam Academy Award emang pantas didapat karena aktingnya sebagai bapak-bapak bad-ass selalu bisa diandelin. Kedalaman jalan cerita filmnya juga semakin buat penonton penasaran. Kehidupan di dalam kereta yang gak asing di kalangan masyarakat menjadi poin plus sebagai tema yang diangkat.

Pengambilan gambar dengan gaya big close up dan extreme close up seolah-olah menyiratkan keseriusan dan kunci penting dari cerita film. Usaha untuk menebak siapa dalang di balik semua kejadian juga akan jadi bumbu penyedap buat kamu ikutin.

Duh, dari reviewnya aja udah bikin kamu pada penasaran kan? Makin penasaran lagi sama kira-kira siapa yang sebenernya jahat? Yaudah, mending kamu langsung janjian sama temen buat nonton film ini. Tapi buat spoiler tonton dulu deh cuplikan trailernya di bawah ini.

You might also like More from author