Ready Player One, Film Wajib Tonton Buat Para Gamer!

Trailer yang bikin penasaran akhirnya berubah jadi film memukau. “Ready Player One” karya Sutradara Steven Spielberg sajikan cerita fantasi penuh easter eggs yang tampak sangat realistis dari berbagai aspek.

Sayangnya, film epik yang tayang di Indonesia 28 Maret ini bukan cerita original, melainkan diangkat dari novel perdana berjudul serupa karya Ernest Cline, 2015. Seperti halnya produk daur ulang, jangan bandingin novel dengan filmnya, ya.

Secara umum sih, film keluaran Warner Bros ini nampilin banyak banget penyebutan pop culture, mulai dari kemunculan karakter, pakaian, adegan, hingga quotes film dan video game populer. Lebih detail lagi, begini ceritanya…

Nama Dia Wade Watts

Berlatar di Amerika Serikat pasca revolusi internet besar-besaran, kejadian di film berlangsung sekitar tahun 2044. Pergaulan, pekerjaan, hingga pencarian hiburan, bahkan pendekatan calon jodoh dilakuin di dalam game OASIS.

Mata uang di dalam game jadi alat pembayaran yang sama terpakainya dengan mata uang sah di negara dalam film itu. Bisa dibilang, semua orang hidup dan mencari kehidupan di dalam game. Realita justru menjadi sesuatu yang gak nyata.

Gawatnya lagi para pemain semakin ambisius karena pembuat game-nya, Halliday (Mark Rylance) menyimpan satu misi. Siapapun yang bisa menemukan ‘telur paskah sakti’ bakalan peroleh saham terbeser perusahaan game online itu dan jadi pemilik utamanya.

Wade Watts (Tye Sheridan) termasuk salah satu pecandu OASIS. Dia merasa hidupnya lebih berarti di dalam game, sebagai Parzival ketimbang di dunia nyata sebagai anak yatim-piatu yang tinggal sama tante di rusun kumuh.

Dalam perjalanan menuju rahasia terbesar OASIS, Watts bertemu cewek cantik dengan nickname Art3mis (Olivia Cooke). Sahabat lamanya di dalam game, Aech (Lena Waithe), Daito (Win Morisaki), dan Sho (Philip Zhao) ikut membantu.

Awalnya cuma pengen bersenang-senang, petualangan mereka di dalam game berubah jadi serius lantaran Sorrento (Ben Mendelsohn), pemilik perusahaan pesaing OASIS berambisi menangin misi sehingga membawanya menjadi pemilik game paling berpengaruh dalam hidup manusia saat itu.

Persaingan di dunia fana akhirnya berubah jadi pertaruhan hidup-mati di dunia nyata.

Realistis

Konsep game yang jadi acuan utama dalam hidup terkesan dibuat-buat, padahal aslinya ada yang seperti itu. Ambil contohnya game “Ragnarok Online” tahun 2000an, yang begitu digandrungi.

Para pemain game “Ragnarok” sampe ada yang bisa beli mobil karena sukses menjual barang langka dan jual mata uang dalam game kepada pemain-pemain ambisius.

Bahkan, ada juga sepasang kekasih yang bertemu, pedekate, hingga akhirnya jadian sepenuhnya di game. Di dunia nyata, mereka belum sama sekali bertemu.

Hal lain yang bikin “Ready Player One” adalah kehadiran drone pemburu. Dilengkapi AI dan pemindai wajah, drone macam itu sebenernya sangat mungkin diproduksi di zaman sekarang sebagai alat pemburu tanpa awak.

Terlalu nerd

Karena berisi banyak referensi pop-culture, “Ready Player One” termasuk film berisiko. Penontonnya bisa kegirangan karena melihat karakter game favorit mereka muncul di dalam film. Bisa juga kebingungan karena sama sekali gak kenal karakternya.

Beberapa karakter yang muncul berasal dari game “Overwatch,” “HALO,” “Injustice,” “For Honor,” “Gundam Battle Assault,” hingga “DOOM.” Sedikit pengaruh dari game “Skyrim” dan “Fallout” juga terlihat.

Sementara itu, salah satu referensi film yang muncul adalah adegan film horor “The Shining” (1980). Film jadul itu perlu ditonton supaya adegan “The Shinng” di film “Ready Player One” bisa benar-benar dipahami maksudnya.

Catatan buat kamu: “Penonton tanpa bekal pengetahuan pop-culture yang memadai mungkin cuma akan menikmati efek visual, konsep cerita, dan pengambilan gambar yang WAH BANGET!! Sebaliknya kalo kamu nerd banget sama game, angap aja itu bonus spesial dari film “Ready Player One”.

You might also like More from author