Pesan Khusus Buat Kamu Anak Muda di Tahun Pilkada!

Tahun Politik 2018 kian dekat di depan mata. Ada 12 partai politik yang dipastikan akan segera beradu dalam perlombaan politik yang akan rutin diadakan setiap 5 tahun sekali ini. Elite-elite partai politik tampak sibuk dengan kader-kadernya yang maju sebagai calon pemimpin daerah untuk Pilkada Serentak 2018.

Begitu pula Pemilu 2019 yang menjadi titik kulminasi untuk menyiagakan tokoh-tokoh terkemuka dalam parpol untuk melenggang untuk menjadi anggota legislatif dan orang nomor satu di negeri ini, Presiden RI. Sejumlah baliho dan spanduk telah memenuhi jalan protokol di semua kota/kabupaten seluruh Indonesia. Lengkap pula dengan bendera partai pengusung, dan janji-janji maupun slogan yang lazim digunakan dalam tiap kontestasi rutin tersebut.

Berkoper-koper uang tunai juga siap dihamburkan untuk keperluan yang berhubungan dengan kelengkapan kampanye, dan ehem, kebiasaan buruk yang seringkali masih dilakukan oleh politisi zaman now: politik uang alias money politics.

Masyarakat, artikan saja sebagai orang-orang yang berada di luar istilah politik kekuasaan, mau tidak mau akan terkena imbasnya. Bukan hanya pengusaha yang mendukung penuh para jagonya untuk kemudian simbiosis mutualisme jika terpilih. Bukan juga orang-orang yang memegang jasa pembuatan spanduk atau stiker tempelan di belakang angkot yang sering kita jumpai di jalan.

Namun kita, terutama generasi milenial zaman now yang masih menaruh harapan pada perpolitikan negeri ini agar semakin baik ke depannya. Jika tidak awas dan mawas diri, siap-siap menjadi ‘objek’ para politisi untuk didulang suaranya untuk kepentingan mereka.

Artikel ini tentu tidak mengajarkan kita untuk menjadi golput. Namun agar bijak memilih, dan tidak terjebak dengan permainan kasar politisi zaman now yang sudah pesat perkembangannya sejalan dengan era informasi yaa #AnakEvents.

Berkaca pengalaman yang sudah-sudah, berikut ini hal-hal yang harus dilakukan dan dihindari dalam menghadapi kontestasi politik 2018-2019.

Jangan asal pilih, karena ini bukan Mix&Match fashion kekinian!

Mungkin di antara kita banyak yang menjadi pemilih pemula, atau masih awam dalam Pemilu dan Pilkada. Ada beberapa hal yang perlu dicermati. Pemilihan Umum atau Pemilu, adalah kegiatan yang rutin dilakukan oleh penyelenggara negara untuk mengisi jabatan-jabatan politik dalam tataran nasional. Terutama pada legislatif, dengan memilih anggota DPR, DPD, dan DPRD serta eksekutif dengan memilih presiden dan wakilnya.

Sedangkan Pilkada adalah kegiatan untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerah, di kota/kabupaten dan provinsi domisili kita masing-masing. Ingat, memilih calon pemimpin dan calon ‘wakil’ suara kita di gedung-gedung megah negara kebanggaan bersama tidak sembarang pilih seperti mix-match fesyen di pusat perbelanjaan.

Pilihlah sesuai dengan hati nurani, dan yang terpenting: akal sehat. Selain kedekatan sosok mereka di dalam hati, jangan lupa pertimbangkan rekam jejak mereka dalam kepemimpinannya. Jadi, jangan gunakan cocokologi lagi, ya. Apalagi sampai mengacak, atau yang lazim saudara kita orang Jawa bilang: bonda-bandi.

Gadget makin canggih, tapi penggunanya belum secanggih gadgetnya

Canggihnya media sosial dan berbagai macam gadget atau gawai menjadi primadona di era globalisasi. Bukan main, berapa jam di setiap harinya kita gunakan waktu untuk melihat update status terbaru teman, meng-RT tweet yang lucu, mengupload keseharian via insta stories, maupun mengakses informasi lewat Mbah Google.

Survei Asian Digital Mum sudah membuktikan bahwa ibu rumah tangga atau yang di jalan akrab dipanggil ’emak-emak’, juga lihai menggunakan gawai masing-masing. Tentu menjadi kemajuan yang signifikan selama kita telah hidup dalam era milenial yang baru berjalan 17 tahun.

Namun kelihaian penggunaan gawai oleh berbagai kalangan tidak disertai dengan kecerdasan dalam penggunaannya. Munculnya berita yang tendensius, namun tidak disertai fakta atau akrab disebut hoax menjadi hal yang biasa kita jumpai. Pemberitaan yang cenderung melakukan framing terhadap tokoh tertentu akibat konglomerasi media menjadi asal muasalnya.

Oleh karena itu dimanapun pergaulan yang kita lakukan, janganlah menjadi bagian dari buzzer dengan bijak menggunakan WhatsApp, Facebook, dan Twitter. Kroscek setiap informasi yang kita dapatkan yaa #AnakEvents

Saling menjagokan idola masing-masing silakan, tetapi…

Karena mudah terhasut dengan berita bohong, tak mengherankan jika iklim dunia maya juga turut memanas. Apalagi di dunia nyata sedang dalam situasi kontestasi politik. Untuk itu tak jarang perdebatan dalam kolom-kolom komentar Facebook, Instagram, timeline Twitter, atau bahkan di grup-grup WA yang berujung dengan saling hujat.

Untuk menghadapi situasi yang memanas ini gunakanlah tips ini: Pertama, minimalkan penggunaan kata salah dan benar. Karena di zaman now kebenaran dapat menjadi bias, dimana setiap orang mencari benarnya sendiri atau dengan kata lain pembenaran.

Menurut filsuf kenamaan dari zaman old Karl Popper dan Thomas Kuhn, tidak ada satu pun di dunia yang dilabeli ‘kebenaran sejati’. oleh karena itu mereka mengatakan ada dua cara menurut versi mereka masing-masing, baik falsifikasi maupun verifikasi. Jadi, bolehlah berkampanye dengan media-media yang ada dengan selalu mengedepankan objektivitas. Jangan suka ‘menang sendiri’, ya.

Sudah gak zaman isu SARA di Pemilu dan Pilkada

Sebagai generasi Z, kita tentunya paham akan isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) yang kerap kali muncul di media sosial dalam tataran kontestasi politik menjelang Pemilu dan Pilkada. Dengan panasnya jagat maya maupun dunia nyata akan silih bergantinya hoax, isu SARA menjadi senjata primadona bagi para politikus zaman now.

Kita pasti ingat riuhnya Pilpres 2014 dan Pilkada DKI tahun lalu yang kerap diwarnai isu SARA. Potensi isu SARA pada Pilkada sudah tercium oleh Kemendagri yang sudah mewanti-wanti lima provinsi untuk mewaspadainya. Perlu diingat bahwa tinggal di Indonesia yang berideologi Pancasila keberagaman harus dijunjung tinggi sesuai dengan semboyan yang sudah disepakati para Bapak Bangsa dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya.

Diskriminasi dalam bentuk apa pun sudah tidak berlaku lagi di negeri ini sejak diproklamasikannya kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Sehingga marilah kita berhenti membeda-bedakan orang Indonesia dari beragam latar belakangnya. Kita bisa memegang prinsip bahwa siapa pun orang Indonesia selama mampu memenuhi sumpah/janjinya sebagai pejabat publik yang berkewajiban untuk mewujudkan keadilan sosial, mengapa tidak kita pilih? Masih menggunakan isu SARA dalam Pilkada dan Pemilu? Kembali saja ke zaman kolonial, #AnakEvents!

Buatlah situasi berbangsa, berteman, dan berkeluarga sekondusif mungkin

Yang satu ini mungkin subjudulnya paling nyeleneh di antara poin-poin yang lain. Tapi, ini menjadi peringatan serius bagi kita semua. Jangan sampai kontes Pilkada dan Pemilu membuat persatuan kita sebagai bangsa, teman, maupun keluarga terpecah belah.

Boro-boro berbicara tentang sila ketiga Pancasila tentang Persatuan, satu keluarga besar di Grup WA saja bisa pecah karena perbedaan pilihan dalam politik. Yang harus dipahami adalah, kontestasi politik yang hanya lima tahunan yang fana ini tentu tidak perlu dicampurkan dengan urusan keluarga dan pertemanan yang ranahnya sangat jauh lebih personal.

Belum lagi kalau dua sejoli saling memiliki pandangan politik yang berbeda. Habis sudah, bisa kandas karena baper akibat jagoan masing-masing. Bagaimana caranya supaya bisa terhindar, adalah dengan memisahkan urusan heart-to-heart dengan ranah publik. Jangan sampai kita campuradukkan, apalagi berujung pada perang saudara.

Akhir kata, selamat menghadapi tahun politik 2018-2019. Mudah-mudahan kita terus berada dalam persatuan di tengah keberagaman. Mari berpesta demokrasi dengan sehat, ya #AnakEvents!

You might also like More from author

Comments

Loading...